Hadirkan Rasa Aman, Kapolres Lumajang Dicintai Warga

NTMC POLRI – 10 November 2018, terjadi pergantian tampuk pimpinan di Kepolisian Resort Lumajang dari AKBP Achmad Ichwan Nusi,S.Ik ke AKBP Dr. Arsal Sahban S.Ik. Tidak ada yang istimewa dalam pergantian pucuk pimpinan tubuh korps coklat di kaki Gunung Semeru saat pisah sambut di Gedung Sudjono waktu itu, sudah seperti sebelum-belumnya.

“Waktu saya mendapat tugas baru di Lumajang, waduh dimana tuh daerahnya,” itulah kesan pertama dari Arsal Sahban saat memberikan sambutan dihadapan anggota serta Muspida kota Pisang.

Arsal melalui smartphone berselancar untuk mengenal tempat tugas pertama sebagai Kapolres. Betapa kagetnya dia, sebuah Kabupaten di Jawa Timur dengan penduduknya berprofesi sebagai petani. Daerahnya pengunung dan dipikiranya sangat jauh dari kemajuan.

Dari sejumlah media massa, dirinya mendapatkan informasi dengan tingginya angka kriminalitas konvensional, seperti maraknya begal dan maling sapi. Berita yang paling fenomenal dan mendunia, terbunuhnya Salim Kancil warga penolak tambang pasir di pesisir pantai selatan.

“Saya bismillah berangkat menjalan tugas ke Lumajang demi banga dan negara, untuk mengabdi. Mohon bantuan, tuntunan dan kerjasamanya,” ungkap bapak satu anak itu.

Arsal ditengah sambutanya, bercerita tentang dirinya paling lama mengabdi sebagai anggota Polri di wilayah Jawa Tengah. Bahkan, berkesempatan bergabung di Satreskoba dan Cyber Crime.

“Oh ya, saya bisa mensadap. Kalau anggota polri mau mencoba silakan,” ujarnya seakan pesan perdana bagi rekan kerjanya.

Dari sikap murah senyum saat bertemu dengan orang baru di Lumajang. Mampu membuat orang mau membuka diri untuk menjadi rekan kerja dan sahabatnya.

Menyapa Pers

Satu minggu di Lumajang, Arsal belum melakukan kerja nyata. Ia harus bolak balik ke Lumajang ke Polda untuk rapat koordinasi. Usai itu, dia meminta Paur Kasubag Humas, Ipda Catur Budi Bhaskara untuk menenami dan menyapa insan pers di wilayah hukumnya.

Akhirnya, Arsal membuat jadwal untuk bersilaturahim dengan insan pers dari berbagai media massa bertugas di Lumajang disebuah rumah makan. Saat bertemu dengan para wartawan pertama kali. Dia langsung memeluk rekan wartawan satu persatu sambil mengenalkan diri. Seperti bertemu teman lama yang lama tak bersua.

“Salam kenal, Saya Arsal,” ujarnya.

“Mohon Maaf, baru kali ini bisa bersilaturahim,” terangnya lagi.

“Mohon bantuan dan kerjasamanya,” jelasnya lagi dengan kerendahan hati.

Usai salam satu persatu dengan wartawan yang hadir. Arsal bukan duduk ditempat yang disediakan anggotanya. Tetapi memilih duduk semeja dengan para wartawan. Kebetulan acara kenalan belum dimulai dan hanya diisi lantunan penyanyi elektone.

Sejumlah Meja bundar yang berisi wartawan, dihampiri dan mengonbrol lebih dekat dan bertukar nomer ponselnya. Entah apa yang dibicarakan, tetapi dari gerak-geriknya sangat dekat dengan rekan-rekan pemburu informasi.

“Mohon kerjasamanya, tanpa pers dengan wartawannya. Apa yang dilakukan polri tidak ada apa-apanya bila tak diliput dan dipublikasikan pers,” ungkapnya dalam sambutanya.

Ia seakan tahu benar, sebagai pejabat publik untuk penegak hukum serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat butuh pers. Apapun program dan kinerjanya tanpa bantuan publikasi dari kalangan pers tidak bisa diketahui dan dipahami masyarakat.

Arsal Digoda Penjahat

Belum genap sebulan, Arsal Sahban langsung digoda dengan aksi kawanan begal yang beraksi di kawasan utara dan timur. Korbannya dibacok dan mengalami luka dibagian tangannya.

Aksi komplotan maling sapi juga tak hentu tiap malam di berbagai penjuru. Media sosial banjir dengan pengaduan dari masyarakat. Warga dikecam rasa ketakutan oleh para pelaku tindak kriminalitas.

Belum selesai mengungkap, ada aksi penolakan jalan desa dilewati truk tambang pasir. Karena jalan rusak dan debu menganggu kesehatan warga. Konflik sosial atas tambang mulai muncul.

Arsal Sahban kemudian membetuk tim pemburu begal untuk giat melakoni patroli. Kapolsek jajaran diminta untuk rajin turun ke masyarakat dan kegiatanya diupload di masyarakat.

Tidak ingin hanya mendapat laporan dan dicap Panglima Komando Dalam Kamar (Pangkodamar), Arsal kerap turun langsung kelapangan. Dia mulai memetakan masalah dan karakteristik masyarakat.

“Kalau ada kejadian, masyarakat saat ditanya menjawab Tak Oneng,” jelasnya.

Arsal lulusan S3 Hukum Bisnis di Universitas Padjajaran – Bandung mulai berpikir keras. Mendapatkan ide, langsung di konsep dan diaplikasikan dengan pemetaan matang dari berbagai informasi didapat secara pribadi dari anggota polri dan masyarakat.

Pria asal Sulawesi Selatan itu, memilih fokus kerja di Lumajang. Pasalnya, tingkat kepercayaan terhadap polri dinilai rendah. Arsal memfokuskan bertugas di Lumajang yakni, Berantas Begal, Maling Sapi dan Konflik Sosial.

Bersama Kasat Reskrim AKP Hasran dibentuklah Tim Cobra untuk menindak kriminalitas. Kinerja tim yang mungkin ter-inspirasi dari sebuah satuan tugas dipimpin Kapolri Jenderal Tito Karnavian, saat masih bertugas di Dir Reskrim Polda Metro Jaya menangkap Tommy Soeharto kabur dari tahanan.

Kerja Tim berlogo Ular berbisa dengan anggota memakai seragam hitam berkacamata semakin betaring dan mengila. Kawanan begal mulai dari otak, eksekutor dan penadah ditangkap. Cobra bentukan Arsal mampu melumpuhkan 8 pelaku kejahatan denga timah panas dalam waktu satu setengah bulan.

Penindakan tanpa ampun bila pelaku kejahatan melawan. Bukan pelaku krimalitas berhenti, tapi mengoda sang Cobra. Beberapa pelaku curanmor dan maling sapi satu persatu merasakan patukan si Ular berbisa.

Untuk menutup ruang gerak kawanan maling sapi, Arsal melakukan terobosan dengan mengiatkan siskamling. Dia juga membentu Satuan Tugas (Satgas Keamanan Desa). Ide ini diambil dari Desa Sukosari Kecamatan Jatiroto untuk angka kriminalitas nihil dari ketanggapan masyarakat untuk siskamling didukung pemerintah desa. Sinergitas Polri dan TNI dibawah Koramil sangat mendukung.

Sapi warga juga dibuatkan sistem Garasi Ternak (Gaster) atau dulu dikenal kandang kumpul. Kapolres meminta pada kepala desa bisa membuat program Kandang Bersama seperti di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersuko.

Untuk menekan konflik sosial, Arsal memilih melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat. Dari aspirasi warga disampaikan ke Bupati Lumajang, Thoriqul Haq untuk memberikan kebijakan pro rakyat. Peristiwa penolakan truk pasir, kerja sinergi antara Kapolres, TNI dan Bupati bisa diikuti oleh jajaran dibawahnya.

Giat patroli dikawasan rawan kejahatan rutin dilakukan oleh Arsal sebagai tindakan preventif. Kapolres sering turun langsung ke masyarakat, sebagai bentuk membangun mental warga. Jika polri hadir ditengah masyarakat. Jangan lupa setiap giat Polres Lumajang wajib diunggah media sosial oleh Kapolsek jajaran hingga anggota.

Mulai Dicintai

Sepak Terjang Tim Cobra dan Satlantas sering hadir dimasyarakat. Satreskoba rajin amanakn pengedar miras, okerbaya dan Narkoba. Ternyata mampu mengangkat nama Kapolres Arsal Sahban sebagai publik figur baru di masyarakat. Itupun juga para Kasat Reskrim AKP Hasran Cobra, Kasatlantas AKP IGP Atmagiri dan Kasat Reskoba, AKP Priyo Puwandito ketiban sampur.

Kinerja Arsal bukan hanya persoalan personal branding, tetapi Istitusi Brand mampu dibangun melalui pemikiran dan kerja keras. Sehingga, masyarakat memahami dan mengapresiasi kinerja polri dalam 5 bulan terakhir.

Dibawah Arsal Sahban, Polri khususnya Polres Lumajang mengenal tugas fungsi sebagai pengayoman masyarakat. Ini terwujud dalam progres kinerjanya mendapat kepuasan publik. Meskipun belum disurvey.

Fakta empiris, saat Arsal turun ke lapangan menemui masyarakat. Sejumlah warga meminta foto bersama untuk berselfie atau berswa foto. Itulah bentuk apresiasi masyarakat dan kebanggaan luar biasa. Warga akan menyelipkan do’a untuk Arsal dan jajarannya dalam lindungan Allah SWT.

Cerita dari mulut ke mulut warga Lumajang terus nyaring terdengar. Bahkan, bentuk apresiasi disampaikan di media sosial, disaat polri membekuk penjahat dan hadir ditengah kegiatan masyarakat.

Harapan demi harapan hadir, bahkan bagi masyarakat terdampak dari kerja Polres Lumajang. Mereka berharap si Arsal penyuka daun kelor tidak cepat pindah tugas, sebelum efek jera benar-benar membekas pada penjahat.

Tapi orang Lumajang harus ingat pesan Bang Napi, “Kejahatan ada disaat ada kesempatan, bukan dari niat dari para pelakunya,”. Menghalangi dan menghambat karir dari Arsal bukan juga tindakan yang baik. Arsal bukan milik orang Lumajang, tetapi bangsa dan negara butuh sosok polisi seperti dia. Dimana dia bertugas, berarti negara hadir.

Mari kita dukung dan bantu, kerja Arsal Sahban selama di Lumajang untuk memberikan rasa aman. Polri adalah pengayoman masyarakat.


Was This Post Helpful:

0 votes, 0 avg. rating

Share:

Firmansyah