Peduli Covid-19, Polres Badung Bali Lakukan ‘Razia Lapar’ dan Disiplin Prokes

NTMCPOLRI – Kondisi pandemi COVID-19 menimbulkan masalah ekonomi dan kesehatan. Untuk mengatasinya, Polres Badung, Bali menggelar penegakan protokol kesehatan (prokes) yang disertai pembagian makanan alias ‘Razia Lapar’.

Kegiatan yang dipimpin langsung Kapolres Badung, AKBP Roby Septiadi di Pasar Beringkit, Mengwi, Badung. “Tujuannya, mengkampanyekan hidup sehat dengan protokol kesehatan,” kata Kapolres dalam rilis yang diterima, Jumat (16/10/2020).

Acara itu digelar pada Kamis (15/10/2020) dimana para pengendara yang melintas di depan Pasar Beringkit ataupun pengunjung yang tidak menggunakan masker ditahan polisi. Lalu mereka diarahkan ke halaman parkir pasar untuk diberikan pengertian tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Tidak hanya pakai masker, juga cuci tangan, jaga jarak, dan tidak berkerumun.

“Kegiatan ini kami bekerja sama dengan perusahaan yang ada di Badung dengan memanfaatkan dana CSR yang mereka punya. Kegiatan ini tujuan utamanya adalah penertiban pemakaian masker. Di samping itu kami juga bagi-bagi makanan,” ungkap AKBP Roby.

Selain diberikan teguran lisan berupa ajakan para pelanggar dibagikan masker gratis. Setelah itu para pelanggar diberikan makanan mie instan gratis yang sudah siap disantap. Langkah ini sebagai pendekatan yang persuasif bagi masyarakat.

“Untuk sanksi kami tetap terapkan sesuai dengan Pergub Bali Nomor 46 tahun 2020 dan Peraturan Bupati Badung. Setiap orang yang tidak menggunakan masker akan diberikan sanksi mulai dari sanksi administrasi dan sanksi sosial,” ujarnya.

Menurutnya, hasil evaluasi sementara terhadap kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan utamanya soal penggunaan masker, masyarakat sudah sangat diperhatikan. “Namun masih ada yang tidak pakai masker. Utamanya masyarakat yang berkegiatan di lingkungan sekitar,”imbuhnya.

Baik pengguna jalan, pedagang, maupun pengunjung pasar. Mereka semuanya hanya diberikan terguran dan sanksi sosial berupa sapu kotoran di sekitar pasar. “Kami tidak menerapkan sanksi administrasi. Kami lebih memilih menerapkan sanksi sosial,” ungkapnya.

“Banyak ditemukan yang tidak pakai masker yang keluar dari rumah pergi ke warung sekitar. Setiap kali kami operasi yustisi menemukan 200 sampai 300 orang. Tapi, kalau masyarakat yang jalan jauh sudah semuanya patuh pakai masker,” tuturnya.

author