Polda Jatim Tangkap Sindikat Perdagangan Burung Langka

NTMCPOLRI - Subdit Tindak Pidana Sumdaling Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur (Jatim) berhasil menangkap anggota sindikat perdagangan burung langka. Tersangka berinisial PAS warga Jalan Jepara, Bubutan, Surabaya.

“Pelaku ditangkap karena menjual burung yang langka dan dilindungi,” kata Kabid Humas Polda Jatim RP Argo Yuwono di Mapolda Jatim, Senin (6/7/2015).

Dari penangkapan itu, Polisi berhasil menyita 13 ekor burung langka dilindungi. Diantaranya, satu ekor burung brontok (nisaetus cirrhatus), satu ekor burung elang laut perut putih (haliaeestus leugaster), enam ekor alap-alap sapi (falco moluccensis), dua ekor anak elang, dua ekor elang laut dalam keadaan mati, dan satu ekor elang Jawa.

Selain sejumlah burung langka, penyidik juga mengamankan lima kardus bekas penyimpanan burung elang dan alap-alap dan satu unit sangkar burung berbahan dasar besi berwarana biru.

Kabid Humas menjelaskan, terungkapnya kasus tersebut bermula dari laporan LSM Animal Indonesia. Kemudian, Polisi melakukan penyelidikkan hingga akhirnya menangkap tersangka PAS.

Bersamaan dengan itu, Kasubdit Sumdaling AKBP Anjas Gautama Putra mengatakan, dari pemeriksaan penyidik, diketahui bahwa pelaku mengaku sudah enam bulan menggeluti bisnis jual beli burung langka dan dilindungi itu. Dalam penjualan per ekornya, PAS mampu meraup untung hingga ratusan ribu. PAS mendapatkan burung-burung langka tersebut dari sejumlah pemburu di Jawa Timur. Mereka melakukan interaksi menggunakan media sosial.

“Dia beli dan sempat disimpan di rumahnya. Kemudian dia jual lagi melalui media sosial. Burung dimasukkan ke dalam kardus dan pembayarannya melalui transfer bank,” kata Anjas.

AKBP Anjas menambahkan, para pembelinya adalah komunitas pecinta burung elang yang ada di Surabaya dan sekitarnya.

Pelaku akan dijerat Pasal 40 Ayat (2) juncto Pasal 21 Ayat (2) huruf a dan c Undang Undang RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, juncto Lampiran Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Ancaman hukuman pidana paling lama Lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta rupiah.

author