Polri Gelar Perkara Kasus PT IBU Hari Ini untuk Cari Tersangka Baru

NTMC POLRI – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) akan melakukan gelar perkara atas kasus dugaan kecurangan produksi beras oleh PT Indo Beras Unggul (IBU) hari ini. Kecurangan itu dilakukan terhadap para konsumen dan pihak lain yang melanggar Undang-Undang (UU) Pangan.

Ternyata PT IBU terbukti juga melakukan kecurangan terhadap retail yang memesan beras kepada mereka. Perusahaan retail itu salah satunya adalah Indomart.

Dalam gelar perkara nantinya akan menghasilkan penetapan tersangka baru atas kasus tersebut. Dalam kasus ini, polisi baru menetapkan satu orang tersangka yaitu Dirut PT IBU Trisniawan Widodo.

Sebelumnya, Dirtipideksus sudah melakukan gelar perkara atas kasus tersebut pada Jumat (25/8) lalu. Namun, gelar perkara tersebut terpaksa ditunda hingga hari ini lantaran cukup panjangnya pembahasan.

“Pemaparannya panjang jadi belum selesai dan akan dilanjutkan hari Senin,” kata Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat (25/8).

Diketahui, dalam proses pemesanan beras, tentunya PT IBU membuat kontrak kerjasama dengan pihak pemesan (retail Indomart). Tapi, kesepakatan yang tertera dalam kontrak itu tidak dipenuhinya dengan cara menyelewengkan hasil pesanan yang akan diserahkan kepada retail.

“Kita temukan perintah internal perusahaan untuk memproduksi beras yang dipesan itu. Di working order itu yang kita dapat lihat fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kontrak. Yang diterima pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diperjanjikan,” ujarnya.

Kemudian Agung memberikan contoh dengan salah satu merek beras. Didalam kontrak antara PT IBU dengan retail, bersedia untuk memenuhi produk beras yang dipesan dengan level dua. Namun, yang diberikan malah justru kualitas dibawah level lima atau rendah.

“Demikian juga dengan varitas. Varitas umpanya di sini beras Rojolele itu juga dalam kontraknya diminta varitasnya Rojolele. Tapi ternyata isinya bukan varitas Rojolele,” ucapnya.

Untuk itu, Agung sudah melakuka uji laboratorium terkait isian produksi beras PT IBU di dua tempat berbeda. Dan diketahui, bahwa hasilnya memang benar jika perusahaan itu diduga bermain kotor dalam memenuhi kontrak pemesan.

“Kita periksa sampai ke pecahan beras, itu soal keutuhan beras dalam satu butir. Kan satu butir bisa pecah jadi dua gitu ya. Dalam satu kemasan, kalau ditentukan (oleh pemesan) pecahannya harus hanya 15 persen, itu dalam kemasan harus hanya pecah mencapai 15 persen saja. Kalau isinya pecah sampai 50 persen berarti beda,” ujarnya.

Beras yang pecah sampai 50 persen artinya memang berasal langsung dari perusahaan awal yang memproduksi. Faktor eksternal seperti kuli panggul dan proses distribusi tidak mungkin bisa mengubah pecahan 15 persen menjadi turun drastis hingga 50 persen.

“Bahwa cara kita melihat korban tidak dalam perspektif bahwa korban seperti sakit. Tapi saya ingin melihat bahwa terkait dengan kualitas. Undang-undang pangan bahwa apa yang dinyatakan kemasan adalah janji produk. Tidak boleh membohongi,” pungkasnya.

author